Menjelajah Pulau Morotai, Peninggalan Perang Dunia Kedua
Di bibir Samudera Pasifik, Pulau Morotai Maluku Utara bertahta sebagai mutiara sejarah yang tersembunyi. Julukan “Mutiara di Bibir Pasifik” ini lahir dari peran krusialnya pada Perang Dunia II: pada 15 September 1944, pasukan Sekutu di bawah Jenderal Douglas MacArthur mendarat di pantai barat daya, merebut pulau dari Jepang dengan 3.000 pesawat tempur dan 63 batalyon. Basis militer ini menjadi pangkalan serangan ke Filipina, meninggalkan jejak abadi seperti tank berkarat, bangkai pesawat, dan makam tentara yang kini jadi aset wisata. Dengan luas 1.805 km² dan populasi 53.000 jiwa, Morotai kini menyatukan sejarah perang dengan keindahan tropis yang masih perawan.
Perjalanan dimulai dari Bandara Leo Wattimena di Daruba, ibu kota. Naik ojek atau mobil sewaan Rp200.000/hari, tujuan pertama Museum Perang Dunia II Hilang Nampak Kembali di Desa Joubela. Museum swadaya ini memamerkan restorasi artefak: granat, peluru, kompas, hingga tank M4 Sherman yang diangkat dari laut. Dindingnya menggambarkan pertempuran sengit, lengkap dengan foto MacArthur yang konon mandi di Mata Air Kaca terdekat—sumber air vital bagi pasukannya. Tak jauh, Pitu Street (jalan perang) membentang 7 km, dikelilingi reruntuhan bunker Jepang yang ditumbuhi pohon kelapa.
Napak tilas berlanjut ke Makam Tentara Sekutu di Tanjung Dehe Gila, Desa Juanga. Dua situs ini memakamkan ratusan prajurit AS dan Australia yang gugur; batu nisan usang bertuliskan nama dan tanggal 1944. Wisatawan Eropa dan Amerika sering datang untuk ziarah, sambil snorkeling di Army Dock—pelabuhan pendaratan Sekutu yang kini jadi spot wreck diving dengan bangkai kapal Jepang penuh terumbu karang.
Keindahan alam Morotai tak kalah memukau. Pulau Dodola, dua pulau kecil terhubung pasir putih saat surut, menawarkan laguna biru toska untuk piknik. Di sini, dugong sesekali muncul, sementara Pulau Zum Zum di sebelahnya jadi surga snorkeling: air jernih 20 m, ikan tropis bersekolah di antara bangkai pesawat Bristol Beaufort Australia (kedalaman 40 m). Wreck Wawama Dive di Desa Wawama unik: rongsokan tank dan kapal selam Jepang jadi habitat pari manta dan hiu sirip hitam. Ada 28 titik diving, termasuk Tanjung Wayabula dengan biota 25 spesies karang lunak. Di darat, Pantai Kolorai—desa wisata TNI AL—menyuguhkan pasir putih dan air tenang, ideal untuk renang keluarga.
Budaya lokal Morotai kental dengan kearifan Halmahera. Masyarakat, keturunan suku Tobelo dan Makian, menyambut dengan tarian legu dan masakan sagu bakar pedas. Di Desa Berebere, festival tahunan “Land of Stories” menceritakan legenda naga perang melalui gondang tradisional. Penduduk seperti Muhlis Eso, penjaga museum, berbagi kisah kakeknya yang mengumpul artefak sejak 1940-an—upaya pelestarian yang kini didukung yayasan A Liquid Future untuk edukasi anak tentang konservasi.
Tantangan Morotai nyata: infrastruktur terbatas, akses penerbangan tak menentu dari Ternate (ferry 4 jam), dan ancaman erosi pantai akibat iklim. Pemerintah bangun KEK Morotai untuk pariwisata berkelanjutan, termasuk patroli laut cegah penangkapan ilegal. Sampah plastik dikurangi via program ecobrick, sementara restorasi situs sejarah targetkan 7 gedung museum bertema.
Menjelajah Morotai adalah dialog dengan masa lalu: setiap reruntuhan berbisik kemenangan, setiap ombak menyanyi kedamaian. Di sini, perang jadi cerita, alam jadi obat—undangan untuk generasi baru: jaga mutiara ini, agar kisahnya tak pernah pudar.